ENAM Alasan Manchester United AKAN Finis Empat Besar Liga Inggris: Motivasi Michael Carrick & Pembuktian Kobbie Mainoo

Read Time:4 Minute, 49 Second

Meski harus menunggu tiga tahun untuk kembali mengalahkan Manchester City di Old Trafford, dan jauh lebih lama lagi untuk melakukannya dengan dominasi seperti itu, kemenangan telak Manchester United di derbi akhir pekan lalu sejatinya adalah bagian yang paling mudah. Tim mana pun, apalagi yang baru ditangani pelatih anyar yang sangat memahami sejarah gemilang klub, bisa terpacu saat menghadapi rival terbesar dan keluar sebagai pemenang.

Tantangan sesungguhnya bagi Michael Carrick dan Manchester United adalah menjaga standar yang mereka tunjukkan melawan tim terbaik kedua di Liga Inggris ketika mereka menghadapi tim terbaik, Arsenal, di Emirates Stadium, Minggu (25/1) besok. Yang lebih penting lagi, mereka harus tetap lapar dan fokus saat menjamu Fulham di kandang, sebelum melakoni laga tandang tengah pekan ke markas West Ham.

Carrick mungkin membuka periode keduanya sebagai manajer Setan Merah dengan mimpi indah, tetapi perjalanan menuju target krusial—lolos ke Liga Champions—baru saja dimulai, dan jalannya akan sangat panjang serta melelahkan. Liverpool, sang musuh bebuyutan, kini berada satu poin dan satu peringkat di atas Man United, tepat di urutan keempat yang menjamin tiket ke kompetisi elite Eropa itu.

Finis di peringkat kelima memang bisa saja cukup untuk mengamankan tiket Liga Champions, mengingat dominasi klub-klub Inggris di Eropa. Namun Man United tak boleh berjudi dengan nasib dan berharap pada hasil tim lain. Mereka sudah terlalu lama absen dari Liga Champions dan harus mengendalikan takdirnya sendiri.

egagalan Man United memanfaatkan terpelesetnya tim lain untuk menembus empat besar sempat membuat Roy Keane dan Jamie Carragher mencoret peluang mereka lolos Liga Champions bulan lalu. Namun itu terjadi saat Ruben Amorim masih berkuasa, dan kini Carrick sedang berselancar di atas gelombang optimisme. Keane memang meminta rekan-rekannya di Sky Sports untuk “tenang” setelah kemenangan monumental bekas timnya di derbi Manchester, tetapi rasi bintang mulai sejajar membuka jalan Man United membangun momentum dan merebut posisi empat besar.

‘Nothing to lose’

Jika dibandingkan Amorim, Carrick memang kalah karismatik. Namun ia justru tampil lebih berani secara taktik. Jika Man United terus merangkul jiwa petualang mereka, jalan menuju target akan terbuka lebih cepat karena kemenangan demi kemenangan bisa diraih.

Para pembela Amorim kerap menyoroti fakta bahwa Man United hanya kalah sekali dalam delapan laga terakhir sebelum ia dipecat. Masalahnya, terlalu banyak poin terbuang karena hasil imbang di laga-laga yang seharusnya dimenangi. Amorim cenderung bermain aman dan jarang melakukan penyesuaian taktik di tengah laga, bahkan ketika kebutuhannya begitu nyata, seperti saat menghadapi Everton dengan 10 pemain, atau dalam hasil imbang melawan Wolves dan West Ham di Old Trafford.

Yang benar-benar membakar semangat fans United pada derbi Manchester akhir pekan kemarin adalah bagaimana mentalitas tim kesayangan mereka bukan sekadar ingin mengalahkan Man City, tetapi ingin menghancurkan dan membungkam ‘Si Tetangga Berisik’. Menekan habis-habisan adalah kunci untuk “menggilas” tim-tim yang lebih lemah. Dan meski pendekatan ini bisa membuat Man United sesekali kalah di laga yang mungkin berakhir imbang jika menggunakan pakem Amorim, hasil akhirnya hampir pasti menghadirkan poin yang jauh lebih banyak ketimbang bermain penuh kehati-hatian.

Amorim mungkin mengira punya banyak waktu dan klub akan sabar dengannya. Sementara Carrick tahu betul posisinya selalu di ujung tanduk, mengingat Man United sudah mencari pelatih permanen. Satu-satunya harapannya untuk permanen menduduki kursi panas Old Trafford adalah membawa Man United kembali ke Liga Champions, dan bahkan itu pun belum tentu cukup. Artinya, ia sudah nothing to lose, sebuah kondisi yang mestinya bisa membuat timnya tampil lebih menggairahkan dan lebih berbahaya.

Pemain di posisi terbaik mereka

Carrick tidak menampilkan manuver taktik brilian untuk menundukkan Man City. Perubahan paling sederhana dan paling masuk akal sudah cukup untuk mendorong Man United menuju kemenangan. Keputusan paling efektif adalah menempatkan Bruno Fernandes sebagai gelandang serang, bukan dalam peran lebih dalam seperti di era Amorim.

Darren Fletcher sebelumnya juga memberi kebebasan kepada sang kapten untuk lebih maju dalam dua laga saat ia menjabat karteker. Dan pada derbi Manchester, untuk laga ketiga berturut-turut, Fernandes kembali mencatatkan assist. Ia tampil di level terbaiknya melawan Man City, menciptakan empat peluang emas. Meski ia pernah melakukan hal serupa di bawah Amorim, itu terjadi melawan Wolves yang levelnya jauh lebih rendah, bukan melawan salah satu tim terbaik di Eropa. Bahkan, tak ada pemain yang menciptakan peluang sebanyak itu melawan tim Pep Guardiola dalam satu dekade terakhir.

Fernandes bukan satu-satunya pemain yang cemerlang di posisi alaminya. Amad Diallo kembali ke sayap kanan alih-alih dipaksa bermain sebagai wing-back, sehingga ia tak perlu berjibaku satu lawan satu dalam bertahan melawan Jeremy Doku seperti sebelumnya. Harry Maguire dan Lisandro Martinez juga diuntungkan dengan kembalinya skema empat bek, membentuk kerja sama palang pintu solid yang memastikan Erling Haaland tak mencatatkan satu pun tembakan.

Pembuktian Mainoo

Satu lagi pemain yang bersinar ketika kembali dimainkan di peran yang lebih familiar adalah Kobbie Mainoo. Ia beroperasi dalam skema 4-2-3-1 yang dulu membawanya menembus tim utama di era Erik ten Hag. Bahkan sekadar melihat Mainoo berada di lapangan, apalagi masuk starting XI, terasa asing namun sangat melegakan, mengingat sikap Amorim yang seolah tak pernah benar-benar mempercayai gelandang timnas Inggris itu.

Setelah sempat didorong hingga di ambang meninggalkan klub masa kecilnya oleh pelatih asal Portugal tersebut, Mainoo kembali merasa penting. Itu tercermin dari performa energik yang ia tampilkan, menjadi kunci dalam skema pressing agresif Man United, sekaligus memberi sentuhan flair saat menguasai bola. Menurut data Opta, Mainoo mencatat 77 pressing intens dalam laga itu—tertinggi keempat di antara seluruh pemain Man United sepanjang musim. Ia kini juga menempati posisi kedua dalam statistik pressing per 90 menit di Liga Inggris, hanya kalah dari pemain Everton Merlin Rohl.

Penampilan melawan City menjadi bukti betapa kelirunya Amorim menepikan Mainoo begitu lama. Namun satu laga hebat tak serta-merta menjadikannya gelandang elite, konsistensi tetap menjadi indikator terpenting. Kabar baiknya, Mainoo kini punya kesempatan untuk membuktikan dirinya setelah terlalu lama dipinggirkan, dan ia tampak teramat lapar.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Jejak Pelarian Bripda Rio hingga Jadi Tentara Bayaran Rusia untuk Bertempur di Donbas
Next post Pencarian Korban Longsor Bandung Barat Terkendala Cuaca